Burung Wiwik atau Kedasih, Burung dengan Mitos Menyeramkan

Burung Wiwik

Bagi beberapa orang mungkin masih asing dengan nama burung yang satu ini. Burung Wiwik atau dikenal juga dengan nama Burung Kedasih adalah salah satu burung yang diselimuti mitos menyeramkan terkait kematian. Banyak pecinta burung kicau yang enggan untuk memelihara burung ini, bukan karena mitosnya, namun karena alasan lain. Jika Anda ingin mengetahui lebih dalam mengenai burung yang satu ini, simak penjelasan mengenai Burung Wiwik berikut ini.

Mitos Burung Wiwik atau Kedasih

Burung Wiwik memiliki mitos yang mengerikan di kalangan masyarakat Indoneisa. Salah satu alasan burung ini ditakuti adalah karena kicauannya yang terdengar mengerikan. Mungkin karena suaranya tersebut, munculah berbagai mitos yang mengerikan di kalangan masyarakat.

Menurut mitos, saat mendengar suaca kicauan Burung Wiwik/Kedasih, maka akan ada orang yang meninggal dunia di daerah tersebut. Namun, hal tersebut tentunya hanyalah mitos belaka. Nama kedasih sendiri memiliki arti kekeluargaan dan belas kasih, namun nama ini tidak mencerminkan citranya di mata masyarakat.

Jenis Burung Wiwik

Di Indonesia, terdapat 4 jenis Burung Wiwik yang tersebar di seluruh Indonesia. Berikut jenis-jenisnya.

Baca Juga : 8 Jenis Burung Kicau Terbaik di Indonesia

Wiwik UncuingWiwik Uncuing

Burung Wiwik jenis ini merupakan burung yang paling banyak ditemukan di seluruh wilayah Indonesia. Burung ini memiliki namanya sendiri di setiap daerah. Contohnya adalah Cirit Uncuing di Sunda dan Emprit Gantil di Jawa. Di luar negeri, burung ini disebut rusty-breaster cuckoo.

Burung dengan nama latin Cacomantis sepulcralis ini memiliki ukuran sekitar 23 cm dengan warna abu-abu di kepala dan coklat keabu-abuan pada bagian punggung, sayap, dan ekor. Pada bagian bawah ekor terdapat garis-garis perpaduan warna putih dan hitam. Tubuh bagian bawah Wiwik Uncuing ini berwarna merah karat dan memiliki iris mata coklat dengan lingkar mata kuning, paruh hitam, dan kaki abu-abu.

Secara penampilan, Wiwit Uncuing mirip dengan Wiwik Kelabu, hanya saja warnanya lebih gelap. Makanan utama burung ini di alam bebas adalah ulat bulu, belalang, dan serangga lainnya. Burung ini memiliki suara yang mendayu-dayu dengan nada yang makin rendah kadang makin tinggi.

Burung ini ditemukan di Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Burung Wiwik Uncuing kerap terlihat di daerah pedesaan, tepi hutan, perkebunan, dan di daerah dengan ketinggian 130 m di atas permukaan air laut dan bertengger di ranting pohon-pohon tinggi. Peroide burung ini untuk berkembang biak adalah pada bulan Januari – September dengan 1 butir telur yang terdiri dari berbagai pola warna.

Wiwik KelabuWiwik Kelabu

Wiwik Kelabu atau Kedasih Kelabu dikenal juga dengan nama lain plaintive cuckoo di luar negeri. Ukuran burung ini lebih kecil daripada Wiwik Uncuing yaitu sekitar 21 cm. Wiwik Kelabu (Cacomantis merulinus) memiliki kepala, leher, hingga dada bagian atas yang berwarna abu-abu, punggung yang berwarna merah coklat, perut berwarna kuning jingga.

Ekor burung ini berwana kehitaman dengan warna putih di ujung-ujung bulunya. Selain itu, iris mata burung ini berwarna merah, paruh atas kehitaman, paruh bawah kuning, dan kaki berwarna kuning.

Burung ini lebih sering berkicau pada musim penghujan dan hampir tidak pernah berbunyi pada musim kemarau. Makanan burung ini adalah buah-buahan kecil, laba-laba, dan serangga lainnya. Burung ini berkembang biak pada periode Oktober, Februari, dan April. Setiap periode, burung ini hanya bertelur berjumlah 1 butir dengan telur berwarna kebiru-biruan.

Burung ini menyukai hutan terbuka, hutan sekunder, perkebunan, pedesaan, hingga terkadang ditemukan di wilayah perkotaan dan taman-taman. Burung ini dapat ditemukan di India, Cina, Filipina, Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sulawesi.

Wiwik LurikWiwik Lurik

Burung Wiwik Lurik atau Kedasih Lurik atau banded bay cuckoo memiliki ukuran tubuh sekitar 22 cm. Penampilan burung ini memiliki warna coklat terang pada bagian atas tubuh dan warna keputih-putihan dengan garis hitam halus pada bagian bawah tubuhnya.

Burung dengan nama ilmiah Cacomantis sonneratii ini memiliki alis bergaris pucat dan iris mata berwarna kuning. Paruh bagian atas berwarna kehitaman dan paruh bagian bawah berwarna kekuningan. Kaki burung ini berwarna abu-abu.

Burung ini sering terdengar suaranya di pagi hari atau sore hari tetapi jarang terlihat penampakannya. Makanan utama burung ini adalah ulat, kupu-kupu, dan serangga lainnya. Wiwik Lurik berkembang biak pada sekitar bulan Oktober dan Februari hingga Juni.

Burung ini sering ditemui di daerah hutan terbuka, semak sekunder, lahan perkebunan, tepi perbukitan, hingga daerah pemukiman. Daerah sebaran burung ini adalah Sri Lanka, Bangladesh, India, Nepal, Bhutan, Cina, Indocina, semenanjung Melayu, Filipina, dan Indonesia.

Wiwik HitamWiwik Hitam

Burung Wiwik Hitam atau Kedasih Hitam atau square-tailed drongo-cuckoo memiliki penampilan yang sangat berbeda dengan Burung Wiwik lainnya. Wiwik Hitam (Surniculus lugubris) memiliki tubuh berukuran sekitar 23 cm. Secara penampilan fisik, Wiwik Hitam memiliki penampilan yang mirip dengan Srigunting, namun bentuk tubuh, gerakan, dan cara terbangnya berbeda.

Hampir seluruh bulunya memiliki warna hitam mengkilap. Hanya bagian pada, bulu penutup ekor bawah, dan sisi bawah bulu terluar ekor yang berwarna putih. Burung ini memiliki iris mata coklat pada sang jantan, dan kuning pada sang betina. Paruh burung ini berwarna hitam dan kakinya berwarna abu-abu. Pada burung remaja, terdapat bintik-bintik putih pada tubuhnya secara tidak merata.

Burung ini lebih suka bersembunyi daripada menampakkan dirinya. Makanan utama mereka adalah buah-buahan, ulat, laba-laba, kumbang, dan serangga lainnya. Burung ini berkembang biak pada periode bulan Juli, September, dan November-Maret dengan telurnya yang berjumlah 1-2 butir serta berwarna merah jambu bercoret coklat. 

Burung ini sering terlihat di dalam hutan, pinggiran huta, semak belukar, dan dataran rendah. Wilayah penyebaran Wiwik Hitam meliputi India, Cina, Filipina, dan Indonesia. Di Indonesia, burung ini dapat ditemukan di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, dan Maluku Utara.

Fakta Unik Burung Wiwik

Burung Wiwik atau Kedasih memiliki beberapa fakta unik. Berikut beberapa diantaranya.

Burung ParasitBurung Wiwik Burung Parasit

Berbeda dari kebanyakan burung, burung ini tidak memiliki sarang dan memang tidak membuat sarang. Apabila hendak berkembang biak, Burung Kedasih akan menitipkan telurnya pada sarang burung lainnya seperti pada Burung Ciblek, Burung Cendet, atau burung lainnya.

Selain itu, telur asli dari burung yang dititipi juga akan dibuang oleh burung ini sehingga ketika menetas, hanya anakan Burung Wiwik yang dirawat oleh burung indukan lain. Bahkan jika induk Kedasih tidak membuang telurnya, maka anakan Kedasih yang akan membuang telur burung lainnya.

Lebih dari itu, anak Burung Wiwik juga akan mencakar anak burung yang lainnya hingga mati. Jika anak burung lain menetas lebih dulu, maka anakan Wiwik akan meminta makanan anak burung lainnya yang ada di sangkar. Induk burung yang dititipi juga akan diperbudak untuk terus memberi makan dirinya hingga tubuhnya lebih besar dari induk yang mengeraminya.

Oleh karena itu, burung ini juga dikenal sebagai burung parasit. Akibat perilakunya, tidak jarang burung ini dimusuhi oleh burung jenis lain dan akan diusir apabila mendekat ke sarang burung lainnya. Hal tersebut juga mungkin yang membuat burung ini hidup sendiri dan tidak berkelompok.

Tidak Disukai Kicau ManiaMurai Batu

Burung ini juga tidak disukai oleh kalangan pecinta burung kicau. Mereka juga enggan memelihara Wiwik bersamaan dengan burung kicau lainnya. Suara kucauan burung ini yang monoton dan bertempo lambat dianggap dapat merusak kualitas kicauan burung kicau seperti Burung Murai, Kacer, dan Cucak Ijo. Hal tersebut dapat menurunkan harga jual burung kicau jika mengkontaminasi kicauan burung yang sudah gacor.

Baca Juga : 7 Burung Tercantik di Dunia! Ada Burung Indonesia

Pos Terbaru